BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara tentang
Indonesia, negeri yang termahsyur semenjak era pelayaran dan perdagangan pada
masa kerajaan-kerajaan kuna di Asia Tenggara ini telah menunjukkan
keeksistensiannya sebagai negeri maritim yang memiliki kerajaan-kerajaan kuna
dengan armada laut yang kuat. Hal ini terlihat semenjak abad ke-5 dan ke-6
Masehi ketika penduduk Sumatera yang mendiami ujung barat Indonesia turut
melibatkan diri dalam perdagangan antara Cina dan India. Begitupun pada abad
ke-7 Masehi, pedagang Arab yang datang dari India juga melakukan transaksi
perdagangan dengan beberapa wilayah di Nusantara hingga Cina Selatan. Salah
satu kerajaan bercorak maritim yang bertahan hingga empat abad adalah Kerajaan
Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya yang berdiri sejak abad 7 hingga 11 Masehi
merupakan masa keemasan perdagangan dengan corak maritim. Sriwijaya berhasil
menguasai jalur perdagangan dan pelayaran internasional, sehingga merupakan
salah satu pusat perdagangan terpenting antara Asia Tenggara dan Cina.
Sementara itu Jawa sejak abad ke-8 Masehi telah memperlihatkan kemajuan dalam
sektor perdagangan. Letak pelabuhan-pelabuhan di Jawa bisa dikatakan sangat
strategis karena berada di tengah-tengah antara pulau-pulau penghasil
rempah-rempah dan kayu harum, serta Sriwijaya sebagai pusat perdagangan
internasional.[1]
Kerajaan-kerajaan kuna bercorak
Hindu-Buddha ternyata hanya mengalami masa kejayaan selama kurang lebih sepuluh
abad, terhitung sejak abad V Masehi hingga XV Masehi. Mangkatnya Raja Hayam
Wuruk pada tahun 1389 menyebabkan kemerosotan pada kerajaan Majapahit,
bersamaan dengan arus kedatangan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Putra Raja
Brawijaya, Raden Patah, yang memeluk agama Islam kemudian mendirikan pusat
kerajaan baru sebagai pengganti Kerajaan Majapahit di pesisir pantai utara Jawa
Tengah, yakni Kerajaan Demak. Kerajaan Demak pun semakin memperluas wilayah
kekuasaannya khususnya ke daerah pantai (kota-kota pelabuhan) utara Pulau Jawa
hingga pulau Sumatera. Kota-kota pelabuhan seperti daerah-daerah timur Demak,
Cirebon, dan Palembang telah menjadi penguasaan Demak sejak abad ke-16 Masehi.
Sebagai ibukota kerajaan, Demak betul-betul strategis dan menguntungkan baik
untuk perdagangan maupun pertanian. Kapal-kapal dagang dari Semarang banyak
melalui Demak sebagai jalan pintas untuk berlayar ke Rembang, mengingat posisi
Demak yang berada di tepi selat di antara pegunungan Muria dan Jawa yang dapat
dilayari.[2]
Perkembangan
kegiatan pelayaran dan perdagangan di pantai utara Jawa Tengah telah membentuk
kebudayaan masyarakat pesisir yang memperlihatkan wujud-wujud akulturasi antara
kebudayaan penduduk asli dengan kebudayaan masyarakat pendatang. Secara
antropologis, kebudayaan diartikan
sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam
rangka kehidupan masyarakat yang
dijadikan milik diri manusia dengan belajar.[3]
Sementara itu The American Herritage
Dictionary mengartikan kebudayaan sebagai suatu keseluruhan dari pola
perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, serta agama, kelembagaan,
dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.[4] Unsur-unsur
kebudayaan yang lebih sering dikenal sebagai unsur kebudayaan universal
meliputi peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi), sistem mata pencaharian
hidup, sistem kekerabatan dan organisasi sosial, bahasa, sistem ilmu dan
pengetahuan, kesenian, dan sistem kepercayaan.[5] Ketujuh
unsur kebudayaan universal inilah yang akan dikaji dan dianalisis secara
mendalam dengan objek masyarakat maritim di pantai utara Jawa Tengah.
B. Rumusan Masalah
Berpijak dari latar belakang di atas, rumusan masalah
yang penulis angkat dalam makalah berjudul “KEBUDAYAAN MASYARAKAT PANTAI UTARA JAWA - Tinjauan Proses
Dinamika Sosial Kultural di Pesisir Pantai Utara Jawa Tengah Abad XV Hingga
Abad XXI” adalah :
1.
Bagaimana
proses dinamika sosial masyarakat maritim di pantai utara Jawa Tengah sejak berdirinya
Kerajaan Demak ?
2.
Apa saja
wujud kebudayaan maritim yang melingkupi masyarakat di pantai utara Jawa Tengah
berdasar tujuh unsur kebudayaan universal menurut Koentjaraningrat ?
3. Bagaimana proses keberlanjutan budaya maritim di pantai
utara Jawa Tengah pada abad XXI ?
B.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah berjudul “KEBUDAYAAN MASYARAKAT PANTAI
UTARA JAWA - Tinjauan Proses Dinamika Sosial Kultural di Pesisir Pantai Utara
Jawa Tengah Abad XV Hingga Abad XXI” adalah :
1.
Menjelaskan
proses dinamika sosial masyarakat maritim di pantai utara Jawa Tengah sejak
berdirinya Kerajaan Demak.
2.
Mengidentifikasi
wujud kebudayaan maritim yang melingkupi masyarakat di pantai utara Jawa Tengah
berdasar tujuh unsur kebudayaan universal menurut Koentjaraningrat.
3. Menjelaskan proses keberlanjutan budaya maritim di pantai
utara Jawa Tengah pada abad XXI .
[1] A.M. Djuliati Suroyo, dkk., Sejarah Maritim Indonesia 1, (Semarang:
Jeda, 2007), hlm. 38.
[2] A.M. Djuliati Suroyo, ibid., hlm. 106.
[3] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm.
180.
[4] Yan Mujianto, dkk. Pengantar Ilmu Budaya, (Yogyakarta: Pelangi Publishing, 2120), hlm.
1.
[5] Koentjaraningrat, op.cit., hlm. 19.
kak bisa dibagi kah fullnya? untuk sumber referensi tugas?
BalasHapus