Judul : Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680
(Jilid I: Tanah di Bawah Angin)
Penulis : Anthony Reid
Alih Bahasa : Mochtar Pabotinggi
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta
Tahun Terbit : 2011
Cetakan ke- : II
Tebal : 327 halaman + xxix
B uku tulisan Anthony Reid yang membahas mengenai perkembangan wilayah Asia Tenggara dalam kurun niaga ini dibagi dalam lima bab, yang terdiri atas Pendahuluan: Tanah di Bawah Angin, Kesejahteraan Fisik, Kebudayaan Material, Pengaturan Masyarakat, dan Pesta Keramaian dan Dunia Hiburan.
Di dalam bab I, Reid memberi titik berat pendahuluannya pada Asia Tenggara sebagai Kesatuan Fisik dan Asia Tenggara sebagai Kesatuan Manusia. Reid mengkaji proses imigrasi bangsa-bangsa luar ke Asia Tenggara sekitar abad 16-19 yang membuat perubahan besar dalam hal demografi masyarakat Asia Tenggara yang nantinya menyebabkan kontak budaya berupa adaptasi, konflik, akulturasi, asimilasi, dan lain sebagainya. Dinyatakan bahwa China adalah bangsa pertama yang menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara seperti Filipina dan Nusantara. Selain itu terdapat pula bangsa India dan Jepang yang memiliki hubungan dagang dengan bangsa di kawasan Asia Tenggara sembari membawa motivasi untuk menambah perekonomian Shogun (Jepang) serta menyebarkan kultur kebudayaan (India). Lebih lanjut ditambahkan Reid, Perang Salib yang menyebabkan peralihan jalur dagang menjadi salah satu faktor utama penyebab kedatangan bangsa Eropa ke Asia Tenggara dengan membawa semangat 3 G (Gold, Glory, Gospel) mereka. Portugis mengawali pencarian jalur baru ini. Pada 1486 Bartholomeus Diaz telah mencapai Tanjung Harapan Afrika Barat. Tahun 1498 Vasco da Gama sampai di Kalkuta India. Sedangkan Spanyol memulai ekspedisinya pada 1521 oleh Magellans dan berhasil mencapai Filipina. Portugis dan Spanyol akhirnya bertemu pada 1522 di Maluku, perselisihan diselesaikan dengan Perjanjian Saragosa (1527). Spanyol mendapat Filipina dan Portugis mendapat Maluku.
Reid menerangkan kondisi kesejahteraan fisik masyarakat Asia Tenggara dalam bab II. Reid menjabarkan jumlah penduduk di beberapa daerah di Jawa, Siam, Birma, dan Vietnam yang menunjukkan rendahnya tingkat pertumbuhan penduduk dan bertentangan dengan perkembangan pesat masyarakat di bagian lain Asia Tenggara seperti Filipina. Penurunan tingkat pertumbuhan penduduk secara marjinal disebabkan oleh kebiasaan seks dan pemeliharaan bayi -sebagai implikasi dari peralihan agama yang berdampak pada bidang lainnya-. Berkaitan dengan pola pertanian, banyak wilayah di Asia Tenggara mulai menanam ubi, talas, sagu, dan gandum jauh sebelum padi dikenal mudah tumbuh di wilayah manapun. Tanaman sagu berkembang baik di wilayah Timor, Maluku Selatan, Kepulauan Aru, Buton, dan Selayar. Masyarakat Asia Tenggara memiliki beberapa cara untuk menanam padi seperti pertanian berpindah pada lereng-lereng rendah, menyebar benih di lereng yang tergenang, dan menanam kembali benih padi di sawah. Selanjutnya, Reid menerangkan penggunaan tanah di Asia Tenggara yang kebanyakan belum tergarap di perbukitan dan hutan-hutan. Tanah yang mereka diami dibagi-bagi dengan warga desanya, dan tidak seorangpun boleh menggarap tanah tersebut kecuali jika sudah dijual atau diwariskan. Sementara itu tanah di punggung bukit tidak dibagi-bagi melainkan dimiliki bersama oleh desa. Sub-bab “Peralatan” mengkaji mengenai peralatan pertanian sangat sederhana dan seragam, yakni berbahan dasar besi. Untuk persawahan, peralatannya meliputi luku kayu berujung logam dan garu dari kayu. Sistem pertanian berpindah -seperti dijelaskan sebelumnya- memerlukan parang untuk menebas hutan, pacul atau cangkul, sabit, dan sebuah linggis. Kaum wanita memerlukan ani-ani untuk memotong padi. Dalam hal makanan dan pasokan makanan, Reid menyatakan bahwa bahan makanan utama yang diperdagangkan adalah ikan dan garam, selain bahan makanan utama berupa beras. Mereka juga mengonsumsi rempah-rempah serta mengonsumsi daging mentah -bisa ayam, babi atau kerbau- sebagai bagian dari ritus mereka. Orang Asia Tenggara juga biasa mengonsumsi air dan anggur sebagai minuman sehari-hari mereka. Air bersih sering mengalir dari gunung dan dialirkan ke pemukiman-pemukiman. Masyarakat Asia Tenggara juga memiliki kebiasaan mencampur air dengan limun, kayu manis, buah pala, dan bahan-bahan penyedap lainnya. Minuman seperti anggur atau sejenis alkohol hanya dikonsumsi saat penyelenggaraan pesta. Tradisi Asia Tenggara memiliki keunikan dengan diadakannya pesta makan yang menu utamanya jauh lebih sederhana, tanpa daging dan minuman keras. Untuk makan sehari-hari, mereka biasa makan di lantai dengan menggunakan piring kayu atau daun pisang. Makanan untuk berramahtamah di dalam lingkungan masyarakat Asia Tenggara ialah sirih dan pinang yang ternyata berguna untuk menenangkan otak dan sistem syaraf sentral. Selain itu, sirih dan pinang juga kerap digunakan sebagai pelengkap sesaji. Sementara itu tembakau menjadi lebih populer pada abad berikutnya ketika dijadikan salah satu bahan untuk membuat sirih-pinang. Lebih jauh berbicara tentang masyarakat Asia Tenggara, orang Eropa yang singgah di Asia Tenggara setidaknya hingga penghujung abad ke-18 dibuat takjub dengan iklim Asia Tenggara yang lebih baik ketimbang di Eropa sehingga membuat mereka merasa nyaman. Demikian pula dalam hal kesehatan, mereka takjub dengan masyarakat Asia Tenggara yang tidak seorangpun mengalami bongkok, lumpuh, rapuh, ataupun tuli. Kesehatan orang Asia Tenggara relatif baik dalam masa kurun niaga, dan hal ini sangat berbeda dengan masyarakat Eropa di zaman Renaisans. Terkait dengan kesehatan, masyarakat Asia Tenggara yang dilimpahi air lebih sering membersihkan tubuh mereka dengan cara mandi, sebagai satu syarat kesehatan tubuh. Di kota-kota besarnya, orang Asia Tenggara mengenal sistem pembuangan kotoran dengan pola rumah terbuka dan bertiang, yang nantinya diberikan kepada babi, ayam, anjing, atau bahkan mengandalkan banjir musiman. Selanjutnya, masih mengenai kesehatan, masyarakat Asia Tenggara tampak mulai mengenal gejala penyakit seperti demam dan masuk angin, serta mengenal pula ritus dan obat-obatan penyejuk. Ilmu mengenai obat-obatan tersebut berasal dari tradisi India dan diterjemahkan dan ditulis kembali di Jawa, Bali, Birma, Siam, dan Kamboja. Sistem pengobatan yang dilakukan di masa itu ialah ramuan tumbuhan, mandi, dan pemijatan. Penyakit jiwa juga telah muncul dalam masa kurun niaga tersebut. Mereka kerap menghubungkan penyakit jiwa (atau juga penyakit fisik) dengan ilmu sihir atau guna-guna. Wabah penyakit endemik yang pernah muncul di Asia Tenggara di antaranya terjadi di Ayutthaya di abad ke-14 sebelum rawa-rawa di sana ditutup, begitu pula dengan yang terjadi di Nusantara yang dijangkiti gejala penyakit sifilis. Pada abad ke-16 dan ke-17, wabah yang paling ditakuti adalah cacar dan radang paru-paru.
Dalam bab ketiga yang membahas mengenai Kebudayaan Material, Reid mengungkap kebiasaan orang Asia Tenggara yang menganggap rumah sebagai hal yang kurang penting. Akibatnya mereka sedikit sekali menggunakan kekayaannya untuk membangun rumah meskipun bahan-bahan bangunan sangat mudah didapatkan. Untuk gedung-gedung agama, orang membuatnya lebih bagus dengan menggunakan batu dan bata. Sementara itu, orang Eropa dan pedagang asing membengun gudang-gudang mereka dengan permanen dan kokoh. Hal ini untuk menjaga dari bahaya kebakaran dan serangan musuh. Kemudian dalam hal perabotan dan penerangan, orang Asia Tenggara sangat sedikit menggunakan perabotan rumah. Alat makan maupun tidur sangat sederhana. Bahkan sendok, piring, kursi dianggap tidak penting. Perbedaan kekayaan terletak pada penggunaan barang-barang emas. Mereka lebih sering memakai lampu minyak dibanding lilin. Sisi unik dari orang Asia Tenggara lainnya adalah, mereka menganggap tubuh mereka sebagai media seni. Oleh sebab itu, mereka melukis tubuhnya, menghitamkan gigi mereka bahkan mengisi lubang telinga mereka dengan hiasan emas. Sementara itu, anggapan lain justru muncul pada rambut. Rambut merupakan hal suci bagi orang Asia Tenggara. Mereka menganggap rambut mempunyai kekuatan. Rambut dijaga agar tetap harum, bersih dan hitam. Setelah Islam dan Kristen masuk ada beberapa perubahan yang terjadi. Rambut pria yang semula sama panjangnya dengan wanita dipotong pendek. Begitu pula kuku yang dulu dipelihara panjang lalu dipendekkan. Islam dan Kristen mengajarkan bahwa tubuh merupakan hal netral yang tidak punya kekuatan magis. Dalam hal pakaian dan perhiasan, orang Asia Tenggara menganggap jika keduanya menjadi penunjuk status social. Semakin bagus pakaian dan perhiasan menunjukkan semakin kaya seseorang. Perubahan yang dibawa Islam dan Kristen pada sekitar abad-17 membuat mereka semakin menutup tubuh mereka. Wanita memakai kalung, rok, sepatu dan mantila (cadar). Laki-lakinya memakai topi, jaket pendek, celana dan sepatu. Maka dari itu mereka hampir sama dengan orang Spanyol. Kemajuan mode dalam hal berbusana tentu berimplikasi pula pada produksi pakaian dan perdagangannya. Kapas dan sutra merupakan salah satu komoditi utama setelah bahan pangan. Teknik pembuatan pakaian banyak dipengaruhi dari Cina. Pada abad ke-16 Jawa menjadi pengekspor utama pakaian, dan pada abad ke-17 Sulawesi Selatan bangkit dengan pola kotak-kotak yang disenangi kaum muslim. Tapi, sehebat-hebatnya pakaian dalam negeri masih kalah dengan Gujarat dalam hal pewarnaan. Selanjutnya, pakaian merupakan komoditi penting perdagangan. Asia Tenggara juga dikenal kaya akan emas. Banyak kerajaan-kerajaan yang sampai mengekspor emas hasil tambangnya. Selain sebagai perhiasan emas juga bias menjadi alat tukar. Selain dibuat perhiasan yang beraneka macam, emas juga bisa diubah menjadi benang. Kehebatan Asia Tenggara dalam kerajinan emas ini diakui di mana-mana. Sementara itu, perdagangan laut membuat semakin banyak barang-barang produksi yang harus disediakan untuk dijual. Maka, muncullah keahlian atau pengrajin-pengrajin yang siap untuk membuat barang tersebut. Sayangnya, produksi tersebut banyak yang berskala rumahan. Pengrajin hanya mengerjakan barang setelah uang muka diterima. Hal itulah yang menyebabkan kurang berkembangnya jual-beli langsung. Lebih lanjut, keramik merupakan komoditi utama perdagangan. Produsennya banyak berasal dari pedalaman. Dalam hal teknik, pembuatan Vietnam hampir menyerupai Cina. Namun dari segi kualitas produk dari Cina lebih unggul karena temperatur pembakaran yang lebih tinggi. Bangsawan kaya Asia Tenggara menggunakan keramik impor dari Cina. Selain emas, keberadaan logam -terutama besi- merupakan barang penting. Maka dari itu, besi dipandang mempunyai kekuatan. Pandai-besi juga dianggap orang suci yang bisa menentukan pembentukan negara. Besi banyak digunakan untuk mebuat alat-alat pertanian dan perang. Besi sangat dihargai dan mahal. Teknik melebur biji besi relatif sama. Besi dari Cina kualitasnya lebih baik dan harga relatif murah. Kemudian logam berbahan perunggu yang merupakan perpaduan antara timah dan timah putih terwakili melalui kebudayaan Dong-Son di Vietnam Utara. Perunggu dijadikan patung-patung kecil, perkakas rumah tangga, dan alat-alat musik. Sementara itu pengrajin-pengrajin tembaga Asia Tenggara banyak yang berasal dari pedalaman, khususnya daerah-daerah yang dekat dengan pusat tambang. Masuknya tembaga dari Jepang, Cina dan Eropa secara besar-besaran membuat pengrajin-pengrajin kecil tidak diperlukan lagi.
Tulisan Reid di dalam bab IV yang menjabarkan pola Pengaturan Masyarakat membawa kita mengenal Asia Tenggara bahwa pada abad 14 hingga 16 telah ada penguasa-penguasa daerah-daerah di Asia Tenggara yang saling berebut kekuasaan. Dalam perkawinan seorang penguasa biasanya mengangkat anak, karena adanya persaingan pengganti yang potensial, membuat keturunan dalam jalur genealogis bukan merupakan hal yang menentukan dalam sistem ini. Para pengikut mengabdi pada penguasa untuk dilindungi, didapat karena warisan, didapat untuk perlengkapan jabatan, ada yang sebagai hadiah perkawinan, dan umumnya didapat karena utang. Persaingan berlaku dalam penguasaan manusia, dan kemunduran yang paling menentukan di Asia Tenggara, yakni ketika orang Portugis merebut pelabuhan Malaka yang besar pada tahun 1511. Perang bertujuan untuk meningkatkan jumlah tenaga manusia. Dalam peperangan pasukan dibangun dengan memerintahkan kaum bangsawan dan orang-orang terkemuka suatu negeri untuk membawa pasukannya atas biaya sendiri. Dalam dunia Melayu, unsur kunci dari serangan ialah amok (mengamuk). Mangamuk semata-mata dapat dikatakan sebagai penyerangan, tetapi dengan keris atau pedang secara mati-matian. Proses perubahan sosial yang diperkenalkan melalui jalan peperangan ini dengan cepat mengubah Asia Tenggara dan melahirkan negara-negara baru yang kuat. Kemudian pentingnya ikatan vertikal Asia Tenggara dipengaruhi oleh tiga faktor, yang pertama, penguasaan tenaga kerja dipandang sebagai petunjuk kekuasaan dan status yang menentukan. Kedua, transaksi manusia umumnya ditentukan dalam hitungan uang. Ketiga, perlindungan hukum finansial di negara relatif rendah. Terdapat ketentuan-ketentuan hukum Asia Tenggara yang dapat menyebabkan seseorang dapat menjadi budak, antara lain mewarisi status budak orangtua, dijual menjadi budak oleh orang tua, suami, atau diri sendiri, tertawan dalam perang, hukuman pengadilan, hingga gagal membayar utang. Budak-budak diberi nilai hukum yang persis, biasanya mencapai separuh dari harga orang merdeka, dalam hal kompensasi yang harus di bayar oleh atau kepada pemilik budak. Dalam kota maritim, sebagian besar budak didapat melalui perdagangan atau penaklukan. Sekitar tahun 1500 Jawa merupakan satu-satunya pengekspor budak terbesar. Akan tetapi begitu Islam menytelesaikan penaklukannya terhadap Jawa pada abad ke-16, pulau itu berhenti mengekspor penduduknya. Lebih lanjut, dalam pembahasan mengenai Keadilan dan Hukum, terdapat beberapa kekhasan di Asia Tenggara ketika keadilan dilaksanakan secara cepat dan langsung. Si penuntut dan si pembela menyampaikan pandangannya secara langsung serta dilakukan dibawah sumpah-sumpah untuk mendorong mereka menyampaikan hal yang benar. Keadilan dilaksanakan oleh penguasa dan raja mendengarkan sendiri tuntutan yang dibacakan dan memberikan keputusan di balairung atau di bawah pohon beringin di lapangan kota. Mereka memutuskan berdasarkan nalar, mereka tidak mengenal pengacara, replika dan jawaban, serta cara-cara lain untuk memperlama dan menunda-nunda persoalan. Oleh karena itu kedua belah pihak yang bertikai diharuskan mengucap sumpah yang seksama sambil menghimbau hukuman adikodrati. Selanjutnya dalam bahasan mengenai hubungan seksual, kesusasteraan Asia Tenggara pada masa itu cukup jelas memperlihatkan bahwa kaum wanita memainkan peranan aktif dalam bercumbu dan bermain cinta, serta mengharapkan pasangannya bersikap adil dalam hal kepuasan seksual dan emosional. Gambaran yang paling nyata dalam kuatnya kedudukan yang dimiliki kaum wanita dalam soal seksual ialah pembedahan menyakitkan pada alat kelamin yang harus dilakukan pada kaum pria untuk meningkatkan kenikmatan erotis pada kaum wanita. Pembedahan yang paling menyakitkan ialah memasukkan peniti logam, yang dilengkapi dengan berbagai roda, taji atau kancing, di Filipina bagian tengah dan selatan serta di beberapa bagian Borneo.
Untuk mendapatkan kenikmatan, pria Asia Tenggara memasang bola-bola atau lonceng-lonceng kecil di bawah kepala penis yang dimasukkan kedalam kulit lepas. Dalam hal perkawinan, pola yang dominan ialah yang bersifat monogami, dengan perceraian yang relatif mudah bagi pria maupun wanita. Akan tetapi, di kalangan raja-raja, banyaknya istri merupakan pertanda status dan sebagai senjata diplomasi. Para bawahan menawarkan anaknya untuk menjadi istri raja sebagai semacam upeti untuk tanda kehormatan. Dalam perceraian pembagian harta menjadi masalah atau hal penting di dalamnya. Ketentuan talak dalam hukum Islam yang dinyatakan dengan tiga kali menyatakan talak juga dikenal di pelabuhan-pelabuhan kosmopolitan. Pada penghujung abad ke-16 pelacuran mulai muncul di kota-kota besar. Dalam semua kasus, yang menjadi pelacur ialah budak-budak wanita milik raja atau kalangan bangsawan. Mengenai perkawinan muda, orang Eropa terkejut jika membicarakan usia kawin dalam masyarakat Asia Tenggara, sebab di Bali kaum pria kawin pada usia 12 tahun dan wanita pada usia 9 tahun. Bahkan seorang Filipina yang melakukan kawin muda sambil menunggu istrinya cukup tua diperkenankan tidur terang-terangan dengan saudara perempuan istrinya yang lebih tua. Reid berkesimpulan bahwa perkawinan pada masa akil balig merupakan pengecualian, yang terutama berlaku di kalangan bangsawan kaya dengan pesta perkawinan yang paling megah. Selanjutnya, rendahnya tingkat kelahiran yang menandai Asia Tenggara pada abad ke-17 dan sebelumnya disebabkan oleh ketidakamanan dan tersebarnya peperangan dalam skala-skala kecil. Begitu pula dengan perpanjangan masa menyusui anak cenderung memperlambat terciptanya indung telur pada kaum ibu rata-rata selama sembilan bulan. Peran wanita yang tidak disadari dalam perdagangan membuat pedagang awal dari Cina dan Eropa terheran-heran karena mereka harus berhadapan dengan kaum wanita. Salah satu wanita yang termasyur kala itu adalah Nyai Gede Pinateh, seorang penganjur Islam dan ibu angkat Sunan Giri. Sekitar tahun 1500-an ia tampaknya memegang jabatan sebagai syahbandar Gresik dan mengirim perahu-perahu untuk berdagang di Bali, Maluku, dan Kamboja. Wanita juga berperan dalam masalah diplomasi terutama mereka yang sudah menjadi teman tidur dan teman dagang para saudagar asing. Sementara itu, pemerintahan wanita digunakan untuk membatasi kekuasaan despotis raja dan membuat negara aman bagi perniagaan internasional.
Bab V, sekaligus sebagai bab penutup, mengisahkan berlangsungnya pesta keramaian dan hiburan di kalangan masyarakat Asia Tenggara. Penduduk Asia Tenggara juga menikmati hiburan mulai dari adu sapi, teater, bahkan hingga hubungan seksual di luar perkawinan. Pesta-pesta keagamaan dan kerajaan memberikan kesempatan kepada raja untuk menunjukkan keagungannya kepada rakyat dan kalangan istana. Arak-arakan besar dan hiburan umum selalu mewarnai even penobatan raja, perkawinan, penguburan, dan lain sebagainya. Peralihan mentalitas ke arah yang lebih rasional tampaknya tetap tidak mengubah citra diri raja sebagai pusat kemegahan upacara tiap peralihan musim karena adanya sinkritisme perayaan dengan unsur-unsur religius Buddha. Pesta-pesta keramaian tersebut memiliki tiga makna penting bagi masyarakat, yakni, keikutsertaan dalam kebesaran dan hirarki negara; kegiatan ekonomi seperti pemasaran dan penyerahan upeti; dan hiburan. Keberadaan pasar merupakan satu tempat keramaian yang banyak memperdagangkan hasil-hasil bumi masyarakat atau sebaliknya, membeli barang-barang impor. Dalam acara hiburan kerajaan juga ditampilkan pertarungan antargajah, harimau, kerbau, atau hewan-hewan yang lebih kecil utamanya kerap dipertunjukkan di istana-istana Jawa, Aceh, Siam, dan Birma. Seabad berikutnya muncul pertarungan antara harimau dengan ratusan lelaki bertombak atau yang disebut sebagai rampogan. Selain itu terdapat pula pertandingan tombak di atas kuda yang mulai diselenggarakan sejak masa kerajaan Majapahit di Jawa dan di Kamboja, Siam, dan Birma. Selain penyelenggaraan pesta yang disisipi aduan-aduan hewan maupun manusia,di kerajaan Thai dan Birma juga terdapat gaya olahraga tinju dan gulat yang banyak menggunakan kaki. Selain itu, di Sulawesi Tengah dikisahkan jika sabung ayam dapat leluasa dilakukan disana. Dalam perjudian, para penjudi memiliki sikap priyayi gedhe yang menghamburkan uang dan harta tanpa memperhitungkan jumlahnya. Orang Asia Tenggara memiliki permainan yang unik dengan menggunakan piranti dari tumbuh-tumbuhan. Selain itu terdapat pula permainan layang-layang yang dilakukan selama musim kemarau dengan aneka bentuk dilengkapi belahan bambu khusus di kepala layangan yang dapat menghasilkan bunyi dengung atau “suara dewa”. Di Indonesia pada abad 15 terdapat permainan gasing dan pada sumber lain disebutkan bahwa gasing pertama dibuat oleh Damar Wulan pada abad ke-17 atas perintah dewa. Kemudian permainan dadu juga dikenal dalam tradisi Weda di India dan kemungkinan telah dikenal masyarakat Asia Tenggara sejak zaman purba. Permainan kartu diperkenalkan oleh orang China dan menjadi fasilitator utama dalam permainan judi. Permainan catur mulai dikenal masyarakat Asia Tenggara khususnya Jawa pada tahun 1509 ketika seorang Portugis bermain catur di atas kapal menuju Malaka. Selanjutnya, permainan fisik yang dikenal di Asia Tenggara dan menjadi kekhasannya adalah olahraga sepak takraw yang kini dimodernisasi semacam olahraga bola voli. Pada abad 18 olahraga ini berlaku di Birma, Siam, Vietnam selatan, dan juga wilayah Indonesia khususnya di wilayah Maluku. Bola bulu juga menjadi permainan masyarakat Asia Tenggara pada saat itu. Bola bulu dibuat dengan cara melekatkan bulu-bulu pada tabung bambu kecil dan menggunakan alat pemukul dari kayu. Masyarakat Asia Tenggara selain senang memanfaatkan waktu dengan melakukan berbagai macam permainan, mereka juga senang bermain teater, menari, dan bermusik. Teater tersebut dipentaskan secara terbuka, bukan disembunyikan di balik tembok-tembok istana. Sandiwara tersebut dibawakan secara keliling oleh para pemain keliling ke berbagai desa, kota, dan atau istana. Teater dan tari-tarian juga dikaitkan antara kehidupan manusia dengan para dewa-dewa kosmos serta tokoh-tokoh legendaris pada masa lampau. Tarian merupakan sarana untuk berkomunikasi dengan alam roh dan dewa-dewa serta mengundang mereka untuk turut hadir dalam pesta. Tari-tarian bisa dilakukan dengan gerakan apa saja, akan tetapi sebenarnya tarian yang berasal dari zaman purba hanya mengalami evolusi bentuk sandiwara-sandiwara tari. Teater-teater di Asia Tenggara menggunakan tema-tema epos India seperti Ramayana. Teater Jawa mengalami transformasi, perluasan, dan kepopuleran di kota-kota pantasi kosmopolis selama kurun niaga begitu pula dengan wayang yang semakin menemukan bentuknya serta tokoh-tokoh lawak bumiputera semaca Punakawan yang dilebur ke dalam kisah-kisah India.Kesenian musik memiliki peran penting sebagai pengiring teater maupun dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Asia Tenggara. Alat-alat musik impresif seperti gong hanya mampu dimiliki orang kaya dan berarti berhubungan erat dengan status sosial. Selain itu gong juga dipergunakan pada acara-acara kenegaraan seperti perlombaan yang diadakan raja-raja Jawa. Alat musik lain yang keberadaannya mampu dijangkau rakyat biasa adalah rebana, seruling, obo, dan alat-alat musik bersenar yang bahan bakunya biasa dibuat dari bambu, bahkan irama orang menumbuk padi pun dapat digunakan untuk iringan nyanyian. Kemudian, tingkat baca tulis masyarakat Asia Tenggara ternyata sudah menunjukkan peradaban yang tinggi meski tidak didapatkan bukti kesusasteraan tertulisnya. Akan tetapi sebagian besar pria dan wanita mampu menulis di atas bambu atau lembaran daun lontar dalam aksara Filipina. Fakta unik di Filipina dan Lampung menyatakan bahwa tulisan yang mereka buat itu hanya dipergunakan untuk saling bersuratan atau menuliskan catatan antara satu dengan yang lainnya. Sistem tulisan ini juga digunakan untuk mengingat lagu-lagu cinta yang menjadi sentral kebudayaan mereka. Sekitar abad 14 hingga 15 sistem tulisan asli Indonesia “ka-ga-nga” sudah dipergunakan dalam penulisan silsilah, sejarah, kesusateraan, dan buku-buku ramalan atau bahkan untuk menyusun puisi (di Sumbawa). Puisi cinta kerap dijadikan sarana untuk mencari jodoh. Di Sumatera Barat, anak perempuan tidak diperbolehkan sekolah karena kepandaiannya dalam menulis akan digunakan untuk berkirim surat cinta dengan pemuda lainnya. Sementara itu kebiasaan baca-tulis di kalangan pria dibiarkan begitu saja di daerah Islam lainnya. Selanjutnya ada dua faktor yang berlaku di seluruh negeri Asia Tenggara berkait dengan kemampuan baca tulisnya, yakni ketersediaan daun lontar dan bambu sebagai sarana menulis meski tidak ada yang bisa diketahui mengenai kemampuan baca tulis yang diwariskan di luar biara. Di Asia Tenggara, kaum prialah yang lebih aktif menyebarkan dan mempertahankan karya-karya suci tersebut, melalui kehidupan biara. Sebelum abad ke-16, tulisan-tulisan di beberapa daerah yang berada di bawah pengaruh India dituliskan di atas potongan-potongan daun lontar dan di tempat lain dituliskan pada bilah-bilah bambu yang panjang. Dengan menyebarnya teknik pengetahuan tentang cara membuat kertas dari China menyebabkan masyarakat Asia Tenggara juga mengetahui teknik tersebut, salah satunya adalah Vietnam. Diakui juga bahwa hanya ada dua negeri di luar China yang membuat kertas, yakni Kore dan Jawa. Kertas buatan Jawa lebih tebal dan tahan lama dengan panjang delapan meter, berwarna merah, kuat, taban, namun seratnya tidak rata. Siam kemudian menghasilkan kertas yang lebih halus dibanding Jawa dengan menggunakan pohonkhoi atau kain tua dari kapas sebagai bahannya. Di Birma, kertas kasar produknya digunakan untuk tujuannya sendiri dengan cara menghitamkannya dan menulisnya dengan pensil kapur putih. Di Asia Tenggara, warisan sastra populer yang menyatukan kebudayaan Asia Tenggara dalam bentuk puitis. Seperti tulisan mengenai Hikayat Hang Tuah di Malaka, Hikayat Muhammad Hanafiah, dan sebagainya. Sementara itu lagu-lagu cinta Thai dan Laos lebih bersifat erotis. Perlombaan pantun juga biasa dilakukan antar remaja dengan melempar pantun atau saling bersahutan. Perlombaan antara pria dan wanita dilakukan selama musim panen dan pada hari-hari pesta yang dikenal dalam berbagai bahasa dan juga menjadi sarana sekaligus tradisi populer untuk mencari jodoh. Interaksi di beberapa daerah di Asia Tenggara pada umumnya menggunakan bahasa-bahasa para pedagang, seperti bahasa Melayu, Arab, dan Portugis dengan proses interpretasi yang tidak mudah. Makassar memiliki perkembangan yang pesat dalam hal tulis menulis pada abad ke-17 dan melakukan pembaruan dalam catatan istana, pemetaan, dan penerjemahan naskah-naskah kemiliteran dari bahasa Portugis, Turki, dan Melayu ke dalam bahasa Makassar. Kurun niaga membawa perubahan besar dalam hal kebudayaan dan pendidikan, begitu pula dalam kepercayaan rakyat, sistem hukum, gaya pakaian, serta gaya bangunan (arsitektur). Bangsa-bangsa Asia Tenggara merupakan pelaku utama dari perluasan niaga yang menjadi inti dari transformasi hingga abad ke-17. Kota-kota bumiputera merosot, mundur dari kancah perniagaan internasional, atau dikalahkan oleh monopoli dagang Belanda. Sementara itu ketika pasang naik imperialisme kapitalisme membanjiri mereka pada akhir abad ke-19, negeri-negeri ini tidak lagi mampu bersaing dengan bangsa kolonial, seperti yang berlangsung dalam kurun niaga.
______________________
Tipe Pukulan Dari Ayam Bangkok Yang Mematikan
BalasHapusMain S128
Penyebab Ayam Aduan Bangkok Bisa Mengalami Kelumpuhan
BalasHapusDaftar Sabung Ayam