Selasa, 22 November 2011

Ava - SouthEast Asia in the Past (Disarikan dari buku D.G.E. Hall "HISTORY OF SOUTH EAST ASIA")


  • Latar Belakang Pendirian
Setelah Mongol meninggalkan Daratan Tinggi Burma dan melemahkan kekuasaannya di Yunnan memudahkan terbukanya jalan bagi pertumbuhan kegiatan Shan yang terletak jauh di Burma Utara, begitu pula dengan pendirian kerajaan baru yang beribukota di Che-lan dan meluaskan kekuasaannya ke daerah selatan. Raja Shan di Pinya dan Sagaing terus bertengkar dan peranh seorang Pinya yang bernama Narathu meminta bantuan orang-orang Maw-Shan untuk menyerang Sagaing pada tahun 1364. Penduduk banyak yang menyelamatkan diri ke hutan, dan orang Maw balik menduduki Pinya. Atas peristiwa itulah, seorang anak tiri pemimpin Sagaing, Thadominbya, mendirikan ibukota baru di Ava dan mulai membentuk negeri baru di sana.
  • Pengisahan Mengenai Kerajaan Ava
Ava, suatu kepanjangan tangan dari Im-Wa (jalan masuk ke danau), didirikan antara tahun 1364 sampai 1365. Sebagai ibukota daratan Burma dan ibukota seluruh Burma pada tahun 1364, nama Ava sering dihubungkan dengan pencitraan sebuah negeri. Oleh karena itu orang-orang Eropa banyak menyamakan Daratan Burma dengan Negeri Ava lewat pemerintahan Istana Ava, bahkan ketika ibukota sudah berpindah ke Amarapura atau Mandalay. Satu hal yang perlu diketahui bahwa Ava benar-benar didirikan oleh penduduk asli Burma, bukan oleh penduduk Shan. Ibukotanya mengikuti pola Pagan, dan pendirinya mencari dukungan penduduk Burma dengan menelusuri keturunan masing-masing warganya dari raja-raja Tagaung. Thadominbya membuat peraturan-peraturan yang mengikat distrik-distrik Burma di wilayah Selatan yang tidak dipengaruhi oleh infiltrasi Shan. Thadominbya mangkat ketika menderita cacar saat menyerang Sagu. Penggantinya, Myingyi Swasawke (1368-1401) dengan kuat meletakkan pemerintahannya dari dinasti Pagan.
Masuknya orang Shan ke Daratan Burma menjadikan terbentuknya pusat Burma baru di sungai Sittang, yang pada 1280 sebuah desa telahdibentengi di atas bukit sebagai pos untuk melawan penyerangan dari negeri-negeri Karen yang bertujuan untuk mencari budak. Pada awalnya, perkembangan kerajaan ini tidak terhambat, dan pada pertengahan abad XIV menjadi cukup kuat karena pemimpinnya, Thinkaba (1347-1358) menyatakankemerdekaannya dengan menerima gelar kerajaan dan membangun istana bergaya tradisional. Selama pemerintahan puteranya, Pyanchi (1458-1377), konsolidasi Sagaing dan Pinya membawa angin segar bagi imigran Burma yang akan menuju Toungon. Pyanchi yang membuat prasasti di Pagan menuliskan persembahan korban-korbannya di candi-candi di sana dan menyatakan penyambutannya atas pengungsi-pengungsi Shan. Negara baru ini selalu terganggu, dan Ava juga Pegu mencoba menghapus kemerdekaannya. Akan tetapi raja-rajanya ingin memainkan peranan penting dalam sejarah Burma kelak di kemudian hari.
Myingyi Swasawke sengat menginginkan penghidupan kembali politik tradisional Burma yakni menaklukkan orang-orang Mon di Selatan. Akan tetapi pada awal pemerintahannya, ancaman orang-orang Shan di perbatasan utara dan timur sangat membahayakan petualangannya ke Burma Pesisir. Terlebih Pyanchi di Toungoo bersahabat dengan orang-orang Mon. Hal itu menyebabkan beliau mengalami pemaksaan pelaksanaan politik damai dan mengadakan perundingan pada tahun 1371 dengan Raja Binnya U dari Pegu dan dipastikanlah perbatasan antara Burma dengan negeri Mon.
Sejak awal Myingyi telah masuk dalam hubungan dengan negeri-negeri Shan yang kuat dan gemar berperang. Tahun 1371 ia menolak menjadi penengah dalam pertikaian yang semakin memuncak antara Sawbwas dari Kale di lembah Sungai Chindwin dan Mohnyin di distrik Katha. Akan tetapi Mohnyin menyerang Myedu di distrik Swbo pada tahun 1373. Menjelang tahun tersebut, dinasti Mongol telah digantikan oleh dinasti Ming hinggs kekuatannya berdiri kuat di Yunnan sebagai tempat terakhir pertahanan orang-orang Mongol, negeri-negeri Shan dan di sekitar bagian utara Burma. Serangan Myodu adalah awal dari aksi-aksi penyerangan yang menghabiskan waktu panjang dari Mohnyin dan pada tahun 1383, dua tahun setelah perlawanan akhir Mongol di Yunnan, raja Ava mengirim utusan kepada wakil raja Ming untuk meminta bantuan.
China yang untuk kali pertama berhubungan dengan orang-orang Maw Shan memiliki keinginan yang sama dengan Myingyi Swasawke untuk menahan status quo mereka. Ia kemudian dianugerahi pengakuan resmi sebagai Gubernur Ava dan para wakil raja memerintahkan Mohnyin untuk menjaga perdamaian. Selama beberapa tahun perintah tersebut berandil juga, namun pada 1393 serangan Mohnyin mulai memasuki Sagaing. Saudara tiri raja, Thilawa, Kepala Jennethin, menyerang para perampok hingga beberapa tahun selanjutnya dan membuat semua bawahan orang Shan memperlakukan Ava dengan hormat.
Bantuan yang didapat dari Cina tahun 1383 menyebabkan Myingyi Swasawke mampu memperluas kekuasaan aliran Irrawaddhy sampai ke laut. Tahun 1377 ia mendalangi pembunuhan Pyanchi yang pro-Mon di Toungoo. Hal tersebut menyebabkan Razadarit yang naik tahta pada 1385 menawarkan penguasaan atas Pegu sebagai kerajaan bawahannya sebagai imbalan dalam bantuan ketika pemberontakan melawan sepupunya. Myingyi pun mendapatkan kesempatan emas untuk menghapus kemerdekaan Mon.
Ancaman tersebut tidak lantas menyebabkan orang-orang Mon menjadi lemah akan tetapi memperlihatkan keadaan yang lebih kuat meski Mon telah beberapa kali diserang oleh orang-orang Shan. Berikutnya imigran yang dicegat orang Mon bukanlah imigran Shan melainkan orang-orang burma yang terdesak ke delta Irrawaddhy. Seluruh prasasti di Daratan Burma dalam kurun waktu itu berbahasa Burma, dan sebelum peperangan panjang tersebut berakhir, kesusasteraan pribumi Burma telah lahir.
Pengganti Myingyi Swasawke, Minhkaung, memerintah dari tahun 1401 hingga 1422 berusaha sekuatnya untuk mengarahkan peperangan demi peperangan tersebut ke arah keberhasilan dan hampir menemui keberhasilan. Akan tetapi Razadarit, seorang lawan yang tangguh, mampu melemahkan kekuatan Burma dengan bantuan orang Arakan dan menimbulkan ketidakserasian antara orang-orang Ava dengan negeri-negeri di Shan utara. Tahun 1374 Myingyi telah enobatkan seorang pamannya di Arakan. Pada tahun 1381 ia mengirim puteranya akan tetapi puteranya ini tidak diterima dengan baik. Pada tahun 1404 sebagai hukuman atas serangan Arakan, ia mengirimkan pasukan yang berhasil menduduki ibukota akan tetapi rajanya melarikan diri ke Bengal dan puteranya menyelamatkan diri ke negeri Mon. Ia lantas menempatkan anak tirinya di singgasana, namun putera raja Arakan ternyata kembali dengan bantuan Mon dan membunuh raja boneka Burma tersebut. Burma berusaha untuk mengirimkan ekspedisi lain, dengan begitu terjadi peperangan yang silih berganti antara kedua belah pihak sampai tahun 1430 dan Narameikha (raja yang sebelumnya bersembunyi) berhaasil kembali dan mendapatkan mahkotanya (lagi) berkat bantuan Bengal.
Tahun 1406 setelah perdamaian dengan orang-orang Shan dilakukan, Minhkaung mencoba memprovokasi peperangan antara Kale dan Mohnyin. Dalam catatan China disebutkan bahwa ia mengirim pasukan dibawah pimpinan Nolota. Kaisar kemudian mengirimgubernurnya dari Ava, akan tetapi gubernur ini kurang dapat dipercaya sehingga ia menarik kembali pasukannya dan mengirimkan seorang utusan yang bertugas untuk mendamaikan. Komandan Burma tersebut mampu melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga pada 1416 Sawbwa hidup kembali dan sepupu Sawbwa yang telah mati dan pewarisnya kemudian berlindung di Nan-tien.
Sementara itu Sawbwa membalas dendam atas Mohnyin. Tahun 1413 beliau menyerang beberapa bangsa Ava dan mengirim beberapa tawanan ke Peking. Orang-orang Burma membunuhnya dan mengalahkan pasukannya di Wetwin (dekat Maymyo). Pada tahun berikutnya didesakkan Rezadarit di Pegu, iapun menyerang lagi, sementara pada waktu yang sama para pemimpin Shan dari Mawke dan Mawdon menyerang Myedu. Mereka didesak keluar tetapi pada tahun 1415 tentara Burma menyerang lagi dan justru mengancam Ava sendiri. Seorang putera Minhkaung dari seorang puteri  Maw, Minrekyawswa, pada saat itu hampir menang melawan orang Mon. Namun ia diundang kembali ke Ava berkenaan dengan ancaman Shan dan kemenangan atas orang-orang Mon yang lepas dari ancaman Burma. Dua tahun kemudian putera raja itu terbunuh dalam serangan di delta. Tekanan Shan menyebabkan serangan di delta semakin memperbesar resiko.
Hsinbyaskin Thihatu yang menggantikan ayahnya sebagai raja di Ava pada 1422 menyerang Shan melalui tipu isterinya dan dikeroyok oleh Sawbwanya Onbaung (Hsipaw) tahun 1426  lalu terbunuh. Sawbwa kemnobatkan pilihannya sendiri yaitu Kalekyetaungnyo. Akan tetapi ia diusir bersama orang-orang Shan On-baung, oleh seorang pemimpin Burma, Mohnyinthado yang memerintah dari tahun 1427 sampai 1440. Negeri dalam keadaan kacau, para penguasa feodal tidak terikat, dan diajak untuk menentang raja. Serangan On-Baung menyebabkannya harus meninggalkan Ava untuk sementara waktu. Ia sangat disibukkan oleh usaha-usaha perdamaian dan menjadi raja dalam persembunyian di Arakan serta mendirikan ibukota baru di Mohaung.
Di bawah putera Mohnyinthado, Minrekyawswa dan Narapati, keluarga Ava muncul kembali secara besar-besaran. Hal ini disebabkan oleh serangan China terhadap orang-orang Shan dan Maw. Dengan lenyapnya dinasti Kublai Khan pada tahun 1368 China tidak dapat lagi melintasi Asia Barat. Dalam usahanya untuk mencari tempat perdagangan baru, Ming menjadikan Shan Maw sebagai bawahannya. Hal ini mengakibatkan penyerangan dari tahun 1438 hingga 1465. Ada pula alasan bagi gerakan China tersebut untuk menghidupkan kembali kekaisaran tua Nanchan. Pada tahun 1441, Wang Chi, Presiden Dewan Perang, diangkat untuk memimpin pasukan yang bertujuan untuk mendesak Shan keluar dari Luch’uan. Beberapa dari mereka lari ke Hsen-wi, namun sebagian lagi berlindung di Mohnyin di bawah Thonganbawa. Sebuah prasasti di Pagoda Tupayon yang dibuat oleh Narapati di Sagaing menceritakan bahwa Thonganbwa lari sebelum Wang Chi ke Monhyin dan Kale, ditangak oleh orang-orang Burma dan dipersembahkan kepada raja mereka pada hari pelantikannya.
Pasukan Wang Chi yang berhasil menaklukkan Mohnyin kemudian menyerah ketika dihukum. Ketika Narapati menolak permintaannya, China maju menyerang daerah Burma. Peperangan terjadi di Tagaung dan menurut “Hmannan Yazawin” jenderal China terbunuh dan pasukannya diperlakukan dengan buruk tahun 1445. Tahun berikutnya China menyerang Ava dengan pasukan yang lebih besar dan hal ini menyebabkan Narapati menyetujui permintaannya. Narapati kemudian menerima China sebagai atasannya dan sebaliknya pasukan Yunnan membantunya mengalahkan pemimpin Yannethin yang memberontak. Tahun 1451 ia menerima stempel emas legitimasi atas “penentang-penentang Ava” dari China dan menerima sebidang wilayah Mohnyin tiga tahun kemudian.
Sementara itu Shan merasakan pengaruh tamparan China, dan raja Ava berusaha untuk mempertahankan beberapa kekuasaannya. Namun kemudian mengalami penyeimbangan karena negara yang secara terus menerus bertengkar dengan negara-negara Shan yang selalu diancam untuk melibatkan raja dalam berbagai pertikaian dan untuk mengampuni para pemimpin bawahan yang memberontak. Thihathura (1469-1481) adalah raja Ava yang terakhir dan semasa pemerintahannya terus dilanda kekacauan dan pemberontakan. Dalam masa tenggang, raja-raja Ava kemudian mengadakan hubungan dengan pusat Buddha Theravaddha yang ternama di Kandy, Ceylon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar