Aku menemuinya di ujung jalan itu. Seperti tidak berkawan, dia diam saja melihat lalu lalang jalanan. Tanpa senyum.
"Ini," ujarku sambil memberikan sebotol minuman dingin.
"Terima kasih," jawabnya lirih.
Sebenarnya aku bukan tipe manusia yang bisa mudah mengajak bercakap. Aku lebih sering diam kalau bertemu orang baru. Tapi dia berbeda. Kata orang-orang, dia istimewa. Tapi toh aku belum tahu sebagus apa dia di mataku.
"Shift apa?" tanyaku.
"S7", ujarnya selepas seteguk air membasahi tenggorokannya.
"Aku masuk dulu ya," ucapku sembari masuk gedung, sambil melihatnya mengeluarkan sebungkus kretek dari kantong celana.
Aku tak tahu apa yang membuatnya menarik.
Saat aku membawakan minum tadi pun, semua serba tiba-tiba. Seperti cenayang yang langsung tahu apa yang seseorang pikirkan. Nyatanya dia dahaga luar biasa setelah mendorong sepeda motornya sekuat tenaga gegara sebatang paku menancap di ban-nya.
*
Malam ini dia tidak ada. Seingatku dia ada di dua baris setelah namaku. Seharusnya dia ada. Seharusnya dia di sini.
"Dia berarti memilih alpa? Kasihan dong," kasak kusuk dari meja seberang menyusup ke pendengaranku.
"Eh siapa sih?" tanyaku sedikit berteriak.
"Gerald," kata Denon setengah berseru.
Oh pantas saja dia tidak ada, pikirku. Tapi kenapa dia memilih alpa, ya? Bukannya dia cukup tertib mengikuti peraturan di kantor ini? Atau ada hal lain yang membuatnya jengah? Entahlah. Aku memilih menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang harus selesai sore ini ketimbang memikirkan hal-hal yang tidak perlu.
*
"Kenapa kemarin ngga masuk?" tanyaku saat dia besoknya muncul di tempat kerja.
"Adikku sakit," jawab Gerald singkat.
Aku mengangguk saja mendengar penjelasannya. Sepertinya dia sosok yang cukup penyayang. Dia rela disanksi gara-gara menemani adiknya yang sakit.
"Semoga cepat sembuh ya," ujarku sambil masuk ke loker untuk bergegas pulang.
Dia menaikkan alis. Bibirnya masih asyik mengeluarkan asap.
Sore ini aku pulang bersama Denon. Dia temanku sejak sekolah di Yogya dulu. Kebetulan orang tuanya pindah tugas di Semarang sejak tiga tahun lalu. Semesta mengerti, maka dijadikanlah dia satu pekerjaan denganku.
"Hei, diem aja dari tadi?" sergah Denon membuyarkan ingatanku.
"Ish, kaget!" kataku cekikikan, "Eh kamu kenal Gerald dari kapan emang?" tanyaku.
"Dari... setahun belakangan sih. Pokoknya sebelum kamu masuk ke sini. Kenapa? Jangan-jangan..kamu naksir yaaa?" senggol Denon dari belakang, membuatku hampir kehilangan keseimbangan.
"Enggak, ih. Aku belum tahu kenapa cewek-cewek ini suka banget sama dia," jawabku sambil menatap lampu merah.
"Trus ngapain tanya-tanya?" goda Denon, "udah pokoknya kenal lebih jauh aja dulu, ntar juga jatuh cinta!" tukas Denon sambil mencubit pinggangku.
"Dasar Denon!"
*
Tidak seperti biasanya, Gerald masuk pagi hari ini. Dia rapi sekali. Aku cukup sulit mengenalinya karena dia mengenakan kemeja dan celana kain layaknya pegawai perbankan.
"Tuh, calon leader baru," kata April saat aku baru saja duduk.
"Oh iya? Keren dong," jawabku sambil membuka laptop yang belum kumatikan dari kemarin.
"Enak kali ya kalo jadi under-nya dia. Bisa lihat dia terus, bisa kirim message terus, bisa diperhatiin terus, bisa.."
"Aprilia Kusuma bisa diam nggak?" potongku.
"Hihi. Maaf, saking semangatnya," kata April sambil menahan tawa.
Aduh, kenapa perempuan di sini jatuh cinta dengan Gerald, sih? Orang sedingin itu, apa yang bisa dibanggakan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar